Kimberly Ryder Ajarkan Anak Berpuasa dengan Makan Sahur
Bulan Ramadan menjadi momen yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk bagi selebriti Indonesia, Kimberly Ryder. Tahun ini, Kimberly membagikan pengalamannya dalam mengajarkan anak-anaknya untuk mulai berpuasa. Ia merasa bersyukur karena dapat mengenalkan makna puasa kepada mereka dengan cara yang menyenangkan dan edukatif.
“Alhamdulillah, tahun ini aku bisa mengajarkan anak-anak tentang puasa. Mereka mulai belajar bangun sahur dan menjalani puasa hingga waktu Dzuhur,” ungkap Kimberly saat ditemui di Polres Metro Jakarta Selatan.
Kimberly Ryder Ajarkan Anak Berpuasa dengan Makan Sahur
1. Mengajarkan Puasa Sejak Dini
Kimberly Ryder menyadari pentingnya memperkenalkan konsep puasa sejak dini kepada anak-anaknya. Meskipun mereka belum diwajibkan untuk berpuasa penuh, ia berusaha mengenalkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan usia mereka. Menurut Kimberly, membiasakan anak bangun untuk sahur adalah langkah awal yang baik untuk menanamkan kebiasaan puasa.
“Aku ngajarin mereka bangun sahur dulu, supaya terbiasa. Lalu, mereka puasa sampai Dzuhur dulu, nanti bertahap hingga bisa lebih lama,” jelas Kimberly.
Metode ini sering digunakan oleh para orang tua untuk melatih anak berpuasa tanpa membuat mereka merasa terbebani. Dengan pendekatan yang perlahan dan penuh pengertian, anak-anak akan lebih mudah memahami esensi dari ibadah puasa.
2. Menciptakan Suasana Sahur yang Menyenangkan
Agar anak-anak merasa semangat untuk bangun sahur, Kimberly berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan. Salah satu caranya adalah dengan menyajikan makanan favorit mereka serta melibatkan mereka dalam persiapan sahur.
“Aku ajak mereka memilih menu sahur, jadi mereka lebih antusias. Kadang mereka juga ikut membantu di dapur, sekadar menyiapkan piring atau mengambil minuman,” ujar Kimberly.
Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar tentang pentingnya sahur, tetapi juga memahami nilai kebersamaan dalam menjalankan ibadah Ramadan.
3. Memberikan Pemahaman Tentang Makna Puasa
Kimberly juga menekankan bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang kesabaran, empati, dan berbagi. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk tetap bersikap baik, tidak mudah marah, serta berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan.
“Aku jelaskan ke mereka bahwa puasa itu bukan cuma nggak makan dan minum, tapi juga belajar bersabar, bersikap baik, dan berbagi. Ini yang paling penting,” katanya.
Melalui pendekatan ini, anak-anak tidak hanya memahami puasa dari sisi ibadah, tetapi juga dari segi moral dan sosial.
4. Menyesuaikan Durasi Puasa dengan Kemampuan Anak
Sebagai ibu, Kimberly tidak ingin memaksakan anak-anaknya untuk berpuasa penuh sejak awal. Ia memahami bahwa setiap anak memiliki batas kemampuan yang berbeda, sehingga ia menerapkan puasa bertahap.
“Untuk sekarang mereka baru puasa sampai Dzuhur, nanti kalau sudah lebih siap, bisa ditambah sampai Ashar, lalu Maghrib,” katanya.
Strategi ini bertujuan agar anak-anak tetap merasa nyaman dalam menjalani puasa tanpa tekanan berlebih. Dengan pendekatan bertahap, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri hingga akhirnya bisa berpuasa penuh saat sudah cukup usia.
5. Mendorong Anak untuk Berdoa dan Beribadah
Selain berpuasa, Kimberly juga mengajarkan anak-anaknya untuk memperbanyak ibadah selama Ramadan. Ia membiasakan mereka untuk berdoa sebelum sahur dan berbuka, serta mulai mengenalkan ibadah shalat dan membaca Al-Qur’an.
“Aku selalu ajak mereka untuk berdoa bersama sebelum makan, supaya mereka terbiasa. Kalau bisa, ikut shalat juga biar lebih memahami Ramadan,” ungkap Kimberly.
Dengan memberikan teladan, anak-anak pun lebih mudah meniru dan membangun kebiasaan ibadah sejak dini.
6. Menjalin Kebersamaan Keluarga di Bulan Ramadan
Bagi Kimberly, Ramadan bukan hanya soal ibadah individu, tetapi juga momen kebersamaan keluarga. Ia merasa bahwa berbuka dan sahur bersama adalah kesempatan yang berharga untuk mempererat hubungan keluarga.
“Kita jadi lebih sering kumpul di meja makan, ngobrol bareng, dan berbagi cerita tentang hari itu. Rasanya lebih dekat dan hangat,” katanya.
Kebersamaan inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam mengajarkan nilai-nilai Ramadan kepada anak-anaknya.
Kesimpulan
Kimberly Ryder menunjukkan bahwa mengajarkan anak-anak untuk berpuasa bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Dengan mengajak mereka bangun sahur, memberikan pemahaman bertahap, serta menciptakan suasana yang positif, anak-anak akan lebih mudah memahami dan menikmati pengalaman berpuasa.
Pendekatan yang fleksibel dan tanpa paksaan membuat anak-anak lebih semangat menjalani ibadah Ramadan. Selain itu, menanamkan nilai kesabaran, kebersamaan, dan empati sejak dini akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan metode seperti yang diterapkan Kimberly, para orang tua bisa mengajarkan anak-anaknya berpuasa dengan cara yang efektif dan menyenangkan.